Apakah Tuhan Menyertai Para Pemalas?

Salah satu tolak ukur bahwa tingkat kemalasan kita sudah sampai langit ketujuh adalah ketika kita sudah membeli sabun cair isi ulang, namun setelah berminggu-minggu masih belum juga diisi ulang ke tempat sabun yang semestinya. Alih-alih, kita malah memilih memakai sabun milik orang lain –siapapun- yang ada di kamar mandi. Kemudian kita lupa di mana sebenarnya sabun cair isi ulang itu berada? Ini namanya komplikasi: malas sekaligus pikun!

Contoh lain yang bisa saya paparkan adalah blog ini. Tulisan terakhir sebelum ini terbit pada 14 Juni 2013. Satu setengah bulan yang lalu. Terlalu. Ah tapi sayang kalau tulisan ini saya kotori dengan kata-kata penyesalan pada diri sendiri, kemudian ditutup dengan ikrar ‘gak gitu lagi deh.’ Ah, terlalu sinetron. Saya memang pemalas dan masih belum berhasil menumpas kejahatan yang satu ini.

Mari kembali ke judul: apakah Tuhan menyertai para pemalas? Apabila ia maha pendengar, maha pengasih, seharusnya iya. Masalahnya, malas yang saya derita ini aneh. Di dalamnya terkandung kadar jenuh 36%, kurang dukungan lingkungan sekitar 42%, kurang percaya diri 13%, sisanya belum teridentifikasi.

Memang, sebagian pekerjaan yang menjadi tanggung jawab saya selesai pada waktunya. Tapi ya itu masalahnya: hanya sebagian pekerjaan. Masih ada tanggung jawab lain yang belum saya selesaikan –dan saya malah menulis di blog ini. Terlalu. Kemudian kalau ditanya “kenapa yang itu belum kelar, kenapa yang anu belum juga terbit?” galaulah saya dibuatnya. Karena tidak ada jawaban pasti: saya kadang sibuk, tapi ya sebenarnya ada lah waktu untuk menyelesaikan tugas-tugas itu. Tidak mood? Itu bukan alasan yang bisa diterima.

Iya saya merasa jenuh. Iya saya merasa kurang ada dukungan lingkungan sekitar. Kemudian saat saya melihat sekeliling, saya jadi kurang percaya diri, betapa banyak yang luar biasa militan dalam berkarya. Lah saya? Pret.

Pernahkah kamu berada di posisi ini? Sangat ingin menyelesaikan sebuah tugas namun entah mengapa seakan semesta tidak mendukung (tentu ini alasan yang kita buat-buat sendiri, halusinasi). Seakan membuka file “tugas anu” pun segan. Dan kamu tidak bisa menjelaskan “kenapa demikian?” Ah, apakah ini bisa dibilang malas tingkat dewa? Atau, seperti idiom yang sedang populer: mungkin dia lelah.

Lalu apakah Tuhan menyertai umatNya yang lelah, yang malas, yang jenuh, yang kurang dukungan lingkungan sekitar, yang kurang percaya diri, yang terlalu-banyak-alasan-yang-dibuat-buat seperti saya ini?

Saya akan terus mengusik Tuhan untuk menjawab pertanyaan ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s